Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak (Bagian Lanjutan)

Kembali menelisik kedalam pembahasan internet, dimana semua orang kini telah dapat menggunakannya dan menjadi masyarakat didalamnya, para generasi-generasi tua yang kini telah memiliki anak dan telah berusia kerja, atau mungkin menjelang pensiun, bahkan mungkin yang telah pensiun telah menyentuh dunia tersebut. Kini yang menjadi pertanyaan apakah para orang tua-orang tua tersebut bertingkah selayaknya orang tua pada dunia nyata yang sebenarnya? Pada dunia nyata pun telah banyak orang tua yang cukup mengecewakan dengan berjudi, pesta miras, perselingkuhan, kasus perkosaan, pedophilia, mengatasnamakan agama dalam menyelesaikan masalah yang tidak ada hubungannya dengan agama, dan mudah termakan media.

Kenapa mudah termakan media? Sederhana saja, usia mereka dalam menelisik internet masih muda. Apakah para orang-orang tua tersebut mengetahui 9Gag, sebuah platform yang diamini sebagian besar pengguna internet sebagai salah satu pintu masuk mengenal internet? Sederhananya jika masuk kedalam platform tersebut, banyak sekali bercandaan yang memiliki tendensi untuk dibawa kedalam ranah peradilan, bahkan kelewat banyak, terutama kasus penyalahgunaan dan pelecehan nama baik. Selain itu salah satu hal yang menurut saya sendiri para orang tua tersebut kurang dewasa dalam menanggapi dalam menanggapi kasus hoax. Banyaknya broadcast-broadcast yang disebarkan mealui jaringan Whatsapp hingga kemampuan share-alike pada platform Facbook mempermudah informasi diumbar tanpa melihat apakah informasi tersebut benar atau tidak. Sindiran “chat Whatsapp bapak-bapak” kerap menjadi selintingan sarkas untuk meunjukan perbedaan tingkat kualitas pada tingkatan tiap usianya, dan pada kasus broadcast Whatsapp lebih kerap dikirimkan dari orang tua-orang tua baik ke yang lebih muda ataupun yang seusia, yang biasanya broadcast tersebut lebih banyak membicarakan mengenai kesehatan, kasus-kasus kriminal, razia polisi, ataupun beasiswa pendidikan jenjang tinggi ataupun perihal laninnya. kebanyakan penggunaan platform Watsapp ini mirip dengan penggunaan platform Black Berry Messenger sekitar tiga hingga empat tahun lalu (dan masih banyak yang menggunakan platform ini). Kebanyakan broadcast berita (dan biasanya berita informatif seperti kesehatan, razia, kriminal dan semacam (bukan seperti lomba atau beasiswa)) yang disebarkan banyak yang menggunakan template yang sama dalam penulisannya dan terkadang tidak ditulis sumber beritanya. Kalaupun ditulis, beberapa broadcast tersebut tidak dapat ditemukan beritanya di Google, dan kalaupun ditemukan, belum tentu website yang mengeluarkan informasi tersebut berkualitas. Kemudahan dalam membuat web mempermudah beberapa pihak dalam membuat laman tersebut, dan banyak yang kemudian memunculkan laman web tersebut dalam rupa iklan dalam beberapa platform, dan kebanyakan yang muncul adalah di platform Facebook. Mudahnya membuat page dan akun pada laman Facebook jelas sangat mempermudah penyebaran berita dari laman web yangbisa dibilang tidak dipercaya.

Jujur saja, hal tersebut sudah kerap muncul semasa saya memiliki akun Friendster, dan Internet masih dianggap sebagai hiburan semata. Orang dengan dapat mudah mengaku berusia delapan belas tahun keatas dan menipu orang lain di luar negeri melalui platform MiRC, Omegle, Yahoo Messenger dan sebagainya, belum lagi ratusan situs porno yang mudah diakses pada masa tersebut (sekitar tahun 2007 keatas). Pola komunikasi yang dibangun didalam ruang maya tidaklah bersifat arus balik langsung (immediate feedback) hingga akhirnya videocall mulai berkembang seperti sekarang ini. Toh jika dibilang merupakan komunikasi arus balik tertunda (delayed feedback), mungkin penyampaian pesan yang diberikan tidak akan seperti penyampaian pesan seperti pada media cetak (contohnya seperti kolom surat tanggapan pembaca di koran ataupun majalah) karena keterbatasan kemampuan dalam mengirim pesan. Sistem operasional chat memudahkan pengguna dalam berkomunikasi hampir seperti immediate feedback, namun masih dalam kondisi delayed. Hubungan yang dibangun komunikator dengan komunikan pun dapat dipilih: anda bisa berkenalan dengan siapa saja yang ada (online) dan dimana saja serta kapan saja. Seseorang membangun hubungan heterophily (derajat komunikan dan komunikator yang berbeda) baik karena perbedaan usia, gender, hingga perbedaan asal budaya yang ditampilan, entah apa yang ditampilkan benar atau tidak. Informasi yang ditampilkan belum tentu benar, dan pada poin inilah kenapa kasus hoax menurut saya sudah sangat lumrah ketika tinggal dalam dunia internet. Kemampuan dalam memanipulasi informasi ini belum pernah diulas secara komprehensif dalam buku pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi untuk siswa sekolah, apalagi yang tidak mempelajarinya.

Dengan kemampuan dapat memanipulasi informasi serta dapat mereduplikasi informasi yang bebas akses membawa akibat..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s