Hari Buku Nasional, Secuil Banalitas Buku.

17 Mei, Hari Buku Nasional, apakah akhirnya berdampak dengan masyarakat atau hanya komoditi ekonomi?

            Berikut merupakan sebuah pertanyaan atas adiksi saya terhadap beberapa tipe (Ya, saya menklasifikasikan buku!) buku, hingga itu menjadi seperti sebuah fetisisme, jika di logika (saya) kadang tidak baik, namun menarik. Menarik belum tentu menyenangkan atau tidak, ada alasan tersendiri atas ketidak senangan, misalkan terjebak pada sebuah pemikiran (euphoria) dari apa yang saya baca dan tidak mengindahkan kemungkinan lain dari ilmu lain diluar buku tersebut. Namun bagaimanapun buku benar sebagai jendela dunia, membawakan beragam informasi yang beragam, hingga akhirnya subjek yang membaca itulah memilah tepat atau tidaknya.

            Melihat dari apa yang kerap muncul dalam dunia bernama Internet, muncul beragam kebanalan yang terjadi pada beragam segmentasi pasar selera di Internet. Buku salah satunya. “Senja“, “kopi“, dan “puisi” misalkan. Ketiga kata ini kerap dijadikan bahan bercandaan di beberapa elitis segmentatif (sebutlah social jumper pada segmentasi edukasi filsafat dan sastra) karena terlampau banal dipakai oleh beberapa user yang berkutat pada media bloging, Wattpad, hingga Instagram (yang padahal berbasis pada visual). Perlu diakui bahwa sastra menjadi sebuah modal yang cukup seksi beberapa waktu, terutama paska revolusi dari rezim Soeharto. Beribu aktivis bergerak menyuarakan kritikan kepada diktator dengan menggunakan metode seni, sebutlah W. S.  Rendra, Soetardji Calzoum, Chairil Anwar, hingga Wiji Thukul yang dipertanyakan eksistensi tubuh dirinya da begitu banyak orang yang mengeksistensikan lagi karya-karyanya sebagai pengingat pada pemerintah atas template pelanggaran hukum yang semakin dikembangkan hingga sekarang.

            Perkembangan sastra pun berkembang hingga masa “Sastra Wangi” pada akhir tahun 1990-an hingga tahun 2000-an, dan mungkin hingga sekarang, dimana bermunculan sastrawan wanita (sastrawati) yang menyuarakan paham feminisme dan konsep gender equality, serta menjadi jawaban atas perjuangan masa satrawan angkatan “1984” dengan tema-tema undefined love yang diilustrasikan dengan baik berikut tanggapan-tanggapan angkatan pada masa penggulingan rezim Soeharto atas kematian dan kasus pemerkosaan wanita beretnis Cina, serta berkembangnya rumah bordil untuk pejabat dan menengah ke bawah. Ayu Utami, Dewi “Dee” Lestari, hingga Lan Fang muncul membawakan beragam kisah yang memaparkan kegelisahan wanita (wani ditata; istilah Jawa yang menunjukan posisi perempuan pada kebudayaan Jawa (yang mungkin masih diterapkan hingga sekarang.).), yang lucunya kemudian kisah-kisah cinta menjadi segmentatif pada perempuan; novel teenlit (teen literature) muncul dan dengan banalnya menceritakan beragam permasalahan cinta banal a la sinetron yang dibalut diksi-diksi “nyastra“.

            Buku menjadi sebuah media alternatif yang tepat tatkala generasi yang telah mengenal Internet mengalami permasalahan “norma” pada social media, sebutlah ketahuan curhat (curahan hati). Ya, generasi ini mengalami masa dimana lagu Melayu bertemakan cinta sudah menjadi keseharian (applied culture) di Indonesia, bahkan ketika lagu Melayu dianggap untuk orang kampungan (uneducated society lebih tepatnya), mereka akan tetap mendengarkan lagu cinta dari lagu pop luar, dari Beatles, Peggy Lee, Diana Krall, Celine Dion, Anggun C. Sasmi, hingga Raisa. Ya, memang permasalahan terkait cinta menjadi hal yang paling mudah dijual, begitupula dengan media buku (lebih tepatnya literatur). Permasalahan cinta menjadi sebuah warna yang tak akan hilang pada masyarakat kita. Dengan begitu massalnya novel-novel teenlit, lalu mulai munculnya komik shoujo (feminim) kepada otaku wanita (karena manga yang masuk dan paling tembus pasaran kebanyakan komik shonen (maskulin), dan kemudian. bermunculan blogger-blogger yang mengangkat masalah percintaan. Sebutlah salah satu yang terkenal adalah Raditya Dika yang menjual komedi satir mengenai kehidupan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Australia yang sedang dalam hubungan Long Distance Relationship serta shock culture yang ia alami. Dari blog kemudian berkembang pula hingga media untuk menulis yang lebih masuk dekat, kolom status social media atau apapun sebutannya. “What’s on your mind?” dicurahkan pada bentuk teks status pada media-media social tersebut. Ratusan feed dengan teks menjadikan menulis, atau lebih tepatnya mengutarakan hati, menjadi sebuah komoditi yang tidak terkendali. Ratusan orang berlomba agar statusnya mendapat “likes” yang banyak; sebuah bentuk apresiasi. Mirip seperti sastra bukan? Diberi apresiasi. Dengan kemampuan menuliskan pemikiran ini, muncul beragam bentuk penyampaian dari sekedar bahasa langsung seperti berbicara hingga berbentuk syair, bahkan kutipan kata mutiara yang bersifat anonim.

“Untuk apa hidup jika semuanya fana?”

-Anonim-

            Sebutlah kutipan kata-kata itu adalah status social media, dan tidak diberi nama penulis, atau paling tidak tulisan “anonim” seperti diatas, maka itu hanyalah sebuah status dari saya ketika saya galau, namun jika diberi tambahan maka akan memberikan tingkat keyakinan (dan dapat menandakan keintelekan) pada taraf yang lebih dihormati, misalkan:

“Untuk apa hidup jika semuanya fana?”

-Dewi “Dee” Lestari-

            Atau bagaimana jika digantikan jadi begini:

“Untuk apa hidup jika semuanya fana?”

-Nikita Mirzani-

            Kedua contoh barusan akan menjadi di taraf yang berbeda, orang dapat mengidentifikasikan mana subjek yang terpercaya dan berkualitas serta mana yang memiliki taraf tidak berkualitas. Manusia memilih mana yang lebih pantas dan lebih menjual. Dalam konteks agar terlihat lebih “nyastra” dan lebih teredukasi, maka lebih masuk akal memilih penulis daripada penyanyi yang sering mendapat berita miring serta dicap “buruk” sesuai norma masyarakat yang berlaku. Namun ketika pemikran sendiri untuk mendapatkan pengakuan lebih, terutama orang lain yang memakai, sebutlah kutipan sang subjek pertama yang menulis, maka perlu usaha lebih untuk mendapatkan kepercayaan di bidang tersebut. Pilihannya adalah memiliki track record “berprestasi” sehingga tulisannya diakui, atau bersembunyi dengan istilah anonim atau memakai nama orang lain agar tidak terlihat “curhat” atau mungkin (yang makin terlihat sekarang) mencoba social climbing.

            Menjadi masuk akal bagi saya pribadi agar orang menghargai bentuk pemikiran kita, ketika memiliki modal yang masuk akal untuk dilihat berkualitas, terutama buku (dalambentuk cetak) masih dianggap lebih berkualitas daripada tulisan-tulisan pada jurnal online. Kini jawaban atas pertanyaan diatas adalah bermata dua, komoditi ekonomi akan selalu berdampak pada masyarakat, bahkan buku. Permasalahan utamanya bukan lagi sekedar medianya, namun kembali pada diri dalam memilah informasi.

Kalau buku selalu diaggap sebagai sebuah objek prestigious, memangnya buku flat earth conspiracy pantas dibilang prestige?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s