Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak (Prolog)

Akhir-akhir ini makin bermunculan musik-musik sad trap dengan banyak rapper yang naik daun hingga menyentuh mimpi livin’ the American dream. Dengan membawakan tema-tema yang menceritakan soal kebencian pada hidup, kematian pada norma, obat-obatan sebagai pelarian, tidak ada lagi yang indah, dan pembahasan sakit hati karena merasa dialieniasi oleh masyarakat merupakan tema-tema yang kerap diusung oleh mereka. Berpatok kepada kebencian, seperti tema-tema pada masa gemilangnya emo yang muncul pasca generasi grunge, rapper-rapper tersebut muncul dengan titel untuk membenci mereka yang bahagia, walaupun mereka sebenarnya menyentuh kebahagiaan fana yang diimpikan; sebuah ironi atas apa yang mereka jual dan mereka dapat.

Kembali membahas bahwa hal yang radikal itu menjual, karena memang tendensi kebutuhan ekonomi adalah mencari riba sebanyak-banyaknya dengan mencari tiap celahnya. Thug Life, sebuah patron hip hop yang diusung oleh Tupac Shakur, menjadi sebuah idealisme yang telah diamini sebagai jalan hidup hip hop. Livin on the street, the cat hustling on a crack, selling dope, bitches and glory by money, strugling to living the dream. Berangkat dari Bronx, permasalahan birokrasi terhadap ras negro di Compton, hingga kasus penembakan yang menciptakan kubu East Coast dan West Coast, menimbulkan banyak pertikaian yang memicu banyaknya revolusioner dalam hip hop. Hip hop menjadi sangat over-selling dengan adanya pro kontra yang tak akan pernah habis. Sebagian pun mungkin sudah jengah dan mengambil jalan pintas dalam mencapai kejayaan yang diimpi-impikan, sebutlah Flo Rida, Pitbull hingga banyak yang mengaku hip hop seperti Nicki Minaj dan budak-budak mimpi lainnya. Hingga pada akhirnya kejengahan serta romantisme tersebut berlanjut pada generasi saat ini, yang memunculkan konten-konten yang lebih luas untuk dicaci. Sebutlah Mf Doom, Desiigner, hingga yang menjadi ujung tombak generasi sad boys dari barat yaitu $uicide Boy$.

Dengan membawa konten yang membawa hatespeech soal alienasi (yang menurut saya pribadi mirip dengan masa Punk Hardcore dengan punggawa seperti Agnostic Front, D.O.A., Black Flag dsb) hingga membahas soal nihilisme, generasi sintetik, bahkan seni, mereka muncul dan mulai menjajaki dunia hip hop dengan media propaganda bernama Youtube serta media sosial lainnya. Dampak dari propaganda internet memang membawa dampak luas hingga ke timur. Munculnya generasi yang jengah untuk terkekang dengan dogma yang dibangun pada negaranya serta sistem birokrasi yang menguntungkan sebagian pihak di bagian timur ini melahirkan Keith Ape, Nafla, Kohh, Loota, Rich Chigga, dan banyak rapper lain dari negara-negara timur.

Dari sekian banyak yang muncul dan mempengaruhi musik-musik sad trap tersebut, skena ini dimulai dengan naiknya nama Younglean sebagai salah satu orang yang memulai gaya berpakaian edgy beserta konten Vaporwave. Vaporwave mungkin dimulai sebagai bentuk genre musik electronic dan menggabungkan smooth jazz dengan membawa tema yang merefleksikan kehidupan sintetik manusia dalam rangka membangun dunia maya, sebutlah pelopornya Saint Pepsi atau Macintosh Plus. Glitch, gridlines, saturated pixel kemudian kerap dipakai sebagai artwork dari genre musik tersebut hingga ikut memunculkan gaya desain ” A E S T H E T I C ” yang banyak dipakai pada tahun 2010 ke atas. Supreme misalkan, sebagai salah satu produsen fashion pada tema youth culture membawa konten tersebut dan banyak bermunculan di Eropa, terutama pasca naiknya Younglean (pendapat ini diambil dari slah satu ulasan i-D magazine pada channel Youtubenya pada postingan “street, sound and style (8): Supreme キッズとインターネット”.). Hal ini kemudian diikuti dengan adanya brand Hypebeast, Anti Social Social Club, serta lainnya.

Dengan adanya sad trap beserta penggunaan desain vaporwave dalam tiap penggunaan desainnya, sebenarnya, mereka sangat mewakili generasi postnet. Kondisi dimana pasar telah membangun sistem pada dunia yang belum punya norma, dan mereka yang menghidupi dunia tersebut menikmati dalam keadaan tidak sadar, dan baru mulai beberapa pihak yang menyadari hal tersebut. Sebuah gelombang yang mendunia dan tidak bisa ditahan. Tidak ada permasalahan ruang dan waktu didalamnya, dan justru mempercepat kinerja di ruang nyata, dan menjadikan manusia makin menghidupi apa yang maya dan bukannya yang nyata. Ketika membicarakan mengenai ID dan Super Ego yang tumbuh didalam seorang manusia, apa yang tidak dikenal, namun dekat, memunculkan keinginan untuk menyampaikan hal yang mungkin tidakbisa disampaikan di dunia nyata. Seorang anak culun yang diminta ibunya untuk sukses dan berorientasi pada uang (settlement) sehingga dapat hidup tercukupi sekaligus akan memberikan dampak strata yang baik ditengah masyarakat negara dunia ketiga akan terlihat rajin belajar dan memungkinkan untuk melampiaskan kekesalannya dalam platform lain, yaitu internet (yang mungkin kalau sekian dekade yang lalu adalah catatan harian). Kejadian ini kemudian memunculkan generasi yang sakit hati dengan realita yang ada dan ingin menjadi seseorang dalam dunia yang lain, dan internet mewadahinya. Mereka yang dialienasi karena lemah, dibenci, generasi emo, atau yang merasa punya beban dari orang tua kemudian menjajaki strata lain di internet. Dan karena munculnya layar hitam yang diciptakan bisa digenggam selalu bernama smartphone, maka munculah kondisi dimana pelampiasan menjadi tidak tertahan, tidak ada norma yang membatasi (karena belum ada, yang ada hanyalah term and condition yang itu-itu saja) dan semua orang bebas dalam mengaksesnya. Kini muncullah perlombaan baru, yaitu panjat sosial secara digital yang berdampak pada dunia nyata.

Membahas mengenai represi yang dibangun didalam keluarga dan menyebabkan munculnya norma tertulis maupun yang tidak tertulis dalam pedoman masyarakat pada anak, tentunya membentuk anak dalam proses bersosialisasi mereka. Role model menjadi sebuah kebutuhan dalam membentuk wujud dari watak sang anak, dan orang tualah yang paling dekat. Name of the father, begitulah pandangan Jaques Lacan dalam proses psikologi seorang anak dalam tumbuh kembang menjadi seorang yang dewasa, dan role model sang anak tidak hanya dapat berhenti pada orang tua saja, namun hingga ke orang-orang sekitar mereka yang dapat memenangkan hati sang anak tersebut. Kurt Cobain misalkan, menjadi seorang role model pada generasi X dan Y dan mendapatkan pengikut yang banyak pada masa itu. Masyarakat yang bobrok dengan segudang permasalahan sosial yang didasari dari permasalahan politik-ekonomi global menimbulkan kejenuhan atas problematika tersebut, dimana problematika tersebut dibawa oleh orang tua mereka yang mengalami kontrak sosial dengan kondisi politik dan ekonomi yang bobrok. Cobain menjadi juru bicara mereka tentang kehidupan dan kebencian mereka hingga pada akhirnya saat Cobain bunuh diri, belasan penggemarnya melakukan tindakan bunuh diri pula. Cobain adalah contoh role model yang mengalahkan sosok dari orang tua.

Pada saat ini, Cobain hanya seorang legenda yang telah mempengaruhi generasi tersebut hingga generasi-generasi selanjutnya, dan ia menjadi seorang contoh dari rasa benci anak muda kepada sistem. Bukan permasalahan musiknya yang kemudian menjadi permasalahan utamanya, namun justru perilaku orang tualah yang sebenarnya tidak dapat membendung kebutuhan anak-anak mereka. Pengaruh psikologi sang anak dalam melawan bukanlah rahasia lagi, mengingat usia remaja keatas akan terus mencari kebebasan dalam berekspresi dan akan melawan sistem. Orang tua tidak bisa memaksakan anaknya untuk memenuhi kebutuhan mereka karena hal itu bukanlah bentuk represi dalam membentuk mental memahami norma masyarakat, namun justru mendegradasi rasa empati sang anak dan justru membuat mereka makin membenci. Menjadi otoriter dalam sebuah keluarga.

Kembali menelisik kedalam pembahasan internet, dimana semua orang kini telah dapat menggunakannya dan menjadi masyarakat didalamnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s