Pra-apokaliptik dibuka oleh Temaram

15034672_1164868200264744_5537769198958149632_n

sumber dari instagram: @temaram_

 

Hai,

Akhirnya bisa nulis lagi, tapi ga marah-marah. hehehehe

 

Pada tanggal 7 Januari 2017 ini, saya melihat sebuah mini gigs yang menyenangkan untuk saya, yaitu launching album Temaram. Sudah cukup lama juga saya tidak melihat acara gigs di Kedai Kebun Forum, tempat berlangsungnya acara tersebut. Terakhir kali saya datang untuk meramaikan launching komik milik Barasub, yaitu Beringas edisi kedua. dan tempat ini selalu membawa romantikanya sendiri dalam tiap dentum acaranya. Temaram melakukan launching mini album mereka bertajuk “Revival“. Sebuah tajuk yang cukup me-“revive” awal tahun ini.

Skena musik di Indonesia memang cukup sepi untuk musik stoner/sludge/doom. Terakhir kali saya dengar adalah Vrosk yang lebih condong ke arah black metal/doom asal Jakarta. Temaram yang berasal dari Yogyakarta ini, cukup membawa warna gelap yang lain didalam industri musik Indonesia yang serba sempit. Sepintas teringat Electric Wizard dalam format seperti Om. Minimalis, namun dapat mengisi telinga. Dengan membawa tema yang cukup khas dalam musik stoner, yang dimana banyak membahas soal kematian dan pencarian jati diri. Konsep yang mereka suguhkan merupakan sebuah pertanyaan kepada diri mereka sendiri berikut para pendengar musik metal. Akan dibawa kemanakah nyawa musik serta jati diri industri musik lokal? Sebuah pertanyaan yang mungkin akan muncul ketika batang ganja telah habis, atau paling tidak saat sudah tidak dosting (dosis tinggi) marijuana sintetis. Namun yang pasti, konsep ini akhirnya mulai gencar disuarakan di Indonesia, dengan kemunculan Temaram (yang sebelumnya sering dibahas oleh Sigmun atau Suri).

 

Album yang berisikan tiga track ini menurut saya secara subjektif sangat menyenangkan! Dibuka dengan track pertama berjudul “Suri“, langsung dapat dibayangkan bagaimana petualangan jiwa ketika telah mati. Mungkin ketika pertama melihat judulnya, sepintas teringat band stoner asal Jakarta, Suri, namun setelah didengarkan rasanya berbeda jauh. Temaram membawa konsep dan suasana yang mistik, sedangkan Suri, sesuai dengan wawancara mereka (di zine apa gitu lupa namanya, nemunya pas bedah zine pas rangkaian acara Biennale Yogyakarta XII Equator #3), memang cocok ketika sedang giting (red: high). Setelah trackSuri” kemudian disambung oleh track “Revival” dan “Reincarnation“, yang merupakan track terakhir yang juga menjadi favorit saya.

 

Mini album ini cukup disayangkan dengan pengerjaan package yang cukup seadanya, dan saya pribadi cukup terganggu dengan cover album yang pecah pixelnya, namun, so far, album ini sangat cocok untuk membuka tahun 2017, dimana pada tahun ini memulai tahap baru pada era post-net. Kiamat (doom) seakan semakin dekat dengan mulai terpisahnya kehidupan antar masyarakat serta semakin menuhankan teknologi. Segalanya terjebak pada permasalahan permukaan internet, berpindah hidup dengan menghidupi apa yang maya, dan banyak yang belum menghidupi internet hingga dalam. Pra-apokaliptik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s